Rabu, 04 Januari 2012

keseimbangan asam basa

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Gangguan volume cairan dalah suatu keadaan ketika individu beresiko mengalami penurunan, peningkatan, atau perpindahan cepat dari satu kelainan cairan intravaskuler, interstisial dan intraseluler. (Carpenito, 2000).
Keadaan dimana seorang individu mengalami atau berisiko mengalami kelebihan
cairan intraseluler atau interstisial. (Carpenito, 2000).
dan oleh sel untuk hidup, berkembang dan menjalankan tugasnya. Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa kebutuhan cairan sangat penting bagi kehidupan makhluk hidup. Manusia sebagai organisme multiseluler dikelilingi oleh lingkungan luar (milieu exterior) dan sel-selnya pun hidup dalam milieu interior yang berupa darah dan cairan tubuh lainnya. Cairan dalam tubuh, termasuk darah, meliputi lebih kurang 60% dari total berat badan laki-laki dewasa. Dalam cairan tubuh terlarut zat-zat makanan dan ion-ion yang diperluk
Untuk dapat menjalankan fungsinya dengan baik sangat dipengaruhi oleh lingkungan di sekitarnya. Semua pengaturan fisiologis untuk mempertahankan keadaan normal disebut homeostasis. Homeostasis ini bergantung pada kemampuan tubuh mempertahankan keseimbangan antara subtansi-subtansi yang ada di milieu interior.
Pengaturan keseimbangan cairan perlu memperhatikan dua parameter penting, yaitu: volume cairan ekstrasel dan osmolaritas cairan ektrasel. Ginjal mengontrol volume cairan ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan garam dan mengontrol osmolaritas cairan ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan cairan. Ginjal mempertahankan keseimbangan ini dengan mengatur keluaran garam dan urine sesuai kebutuhan untuk mengkompensasi asupan dan kehilangan abnormal dari air dan garam tersebut.
Ginjal juga turut berperan dalam mempertahankan keseimbangan asam-basa dengan mengatur keluaran ion hidrogen dan ion karbonat dalam urine sesuai kebutuhan. Selain ginjal, yang turut berperan dalam keseimbangan asam-basa adalah paru-paru dengan mengekskresikan ion hidrogen dan CO2, dan sistem dapar (buffer) kimi dalam cairan tubuh.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mengetahui gambaran umum mengenai asuhan keperawatan gangguan
volume cairan.
2. Tujuan Khusus
Tujuan umum mempelajari asuhan keperawatn gangguan volume cairan
adalah :
a. Mengetahui konsep dasar anatomi fisioligi cairan tubuh
b. Mengetahui konsep dasar kekurangan volume cairan
c. Mengetahui asuhan keperawatan kekurangan volume cairan
d. Mengetahui konsep dasar kelebihan volume cairan
e. Mengetahui
konsep gangguan keseimbangan asam dan basa

C. Metode Penulisan
Dalam penulisan makalah ini penulis menggunakan metode narasi, adapun teknik yang digunakan yaitu studi pustaka dengan mempelajari buku-buku, browsing internet dan sumber lain untuk mendapatkan dasar ilmiah yang berhubungan dengan asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan volume cairan.

D. Sistematika Penulisan
Makalah ini terdiri dari tiga bab yang disusun secara sistematik dengan urutan
sebagai berikut :
*   BAB I
Pendahuluan menguraikan tentang : latar belakang , tujuan, metode penulisan
dan sistematika penulisan.
*   BAB II
Tinjauan Teori menguraikan tentang konsep dasar anatomi dan fisiologi, konsep dasar penyakit, pengertian, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, pemeriksaan diagnostik, penatalaksanaan medis, pedoman dan asuhan keperawatan.
*   BAB III
Berisi penutup yang terdiri dari kesimpulan dan saran























BAB II
TINJAUAN TEORI

A.Konsep Dasar Anatomi dan Fisiologi Cairan dan Elektrolit
1. Pengertian
Cairan dan elektrolit sangat diperlukan dalam rangka menjaga kondisi tubuh tetap sehat. Keseimbangan cairan dan elektrolit di dalam tubuh adalah merupakan salah satu bagian dari fisiologi homeostatis. Keseimbangan cairan dan elektrolit melibatkan komposisi dan perpindahan berbagai cairan tubuh.
Cairan tubuh adalah larutan yang terdiri dari air ( pelarut) dan zat tertentu (zat terlarut). Elektrolit adalah zat kimia yang menghasilkan partikel-partikel bermuatan listrik yang disebut ion jika berada dalam larutan. Cairan dan elektrolit masuk ke dalam tubuh melalui makanan, minuman, dan cairan intravena (IV) dan didistribusi ke seluruh bagian tubuh.
Keseimbangan cairan dan elektrolit berarti adanya distribusi yang normal dari air tubuh total dan elektrolit ke dalam seluruh bagian tubuh. Keseimbangan cairan dan elektrolit saling bergantung satu dengan yang lainnya; jika salah satu terganggu maka akan berpengaruh pada yang lainnya.
Cairan tubuh dibagi dalam dua kelompok besar yaitu : cairan intraseluler dan cairan ekstraseluler. Cairan intraseluler adalah cairan yang berada di dalam sel di seluruh tubuh, sedangkan cairan ekstraseluler adalah cairan yang berada di luar sel dan terdiri dari tiga kelompok yaitu : cairan intravaskuler (plasma), cairan interstitial dan cairan transeluler. Cairan intravaskuler (plasma) adalah cairan di dalam sistem vaskuler, cairan intersitial adalah cairan yang terletak diantara sel, sedangkan cairan traseluler adalah cairan sekresi khusus seperti cairan serebrospinal, cairan intraokuler, dan sekresi saluran cerna.





2. Proporsi Cairan Tubuh
Prosentase dari total cairan tubuh bervariasi sesuai dengan individu dan tergantung
beberapa hal antara lain :
a. Umur
b. Kondisi lemak tubuh
c. Sex
Perhatikan uraian berikut ini :
1) Bayi (baru lahir) 75 %
2) Dewasa :
a) Pria (20-40 tahun) 60 %
b) Wanita (20-40 tahun) 50 %
3) Usia Lanjut 45-50 %
Pada orang dewasa kira-kira 40 % berat badannya atau 2/3 dari TBW-nya berada di dalam sel (cairan intraseluler/ICF), sisanya atau 1/3 dari TBW atau 20 % dari berat badannya berada di luar sel (ekstraseluler) yaig terbagi dalam 15 % cairan interstitial, 5 % cairan intavaskuler dan 1-2 % transeluler.

3. Elektrolit Utama Tubuh Manusia
Zat terlarut yang ada dalam cairan tubuh terdiri dari elektrolit dan nonelektrolit. Non elektrolit adalah zat terlarut yang tidak terurai dalam larutan dan tidak bermuatan listrik, seperti : protein, urea, glukosa, oksigen, karbon dioksida dan asam-asam organik. Sedangkan elektrolit tubuh mencakup natrium (Na+), kalium (K+), Kalsium (Ca++), magnesium (Mg++), Klorida (Cl-), bikarbonat (HCO3-), fosfat (HPO42-), sulfat (SO42-).
Konsentrasi elektrolit dalam cairan tubuh bervariasi pada satu bagian dengan bagian yang lainnya, tetapi meskipun konsenterasi ion pada tiap-tiap bagian berbeda, hukum netralitas listrik menyatakan bahwa jumlah muatan-muatan negatif harus sama dengan jumlah muatan-muatan positif.
Komposisi dari elektrolit-elektrolit tubuh baik pada intraseluler maupun pada
plasma terinci dalam tabel di bawah ini :
Plasma Interstitial
a. Kation :
Natrium (Na+), Kalium (K+), Kalsium (Ca++), Magnesium (Mg ++)
b. Anion :
Klorida (Cl-), Bikarbonat (HCO3-), Fosfat (HPO42-), Sulfat (SO42-), Protein

4. Perpindahan Cairan dan Elektrolit Tubuh
Perpindahan cairan dan elektrolit tubuh terjadi dalam tiga fase yaitu :
a.    Fase I :
Plasma darah pindah dari seluruh tubuh ke dalam sistem sirkulasi, dan nutrisi dan oksigen diambil dari paru-paru dan tractus gastrointestinal.
b.    Fase II :
Cairan interstitial dengan komponennya pindah dari darah kapiler dan sel
c.    Fase III :
Cairan dan substansi yang ada di dalamnya berpindah dari cairan interstitial masuk ke dalam sel. Pembuluh darah kapiler dan membran sel yang merupakan membran semipermiabel mampu memfilter tidak semua substansi dan komponen dalam cairan tubuh ikut berpindah.Metode perpindahan dari cairan dan elektrolit tubuh dengan cara
1) Diffusi
2) Filtrasi
3) Osmosis
4) Aktif Transport
Diffusi dan osmosis adalah mekanisme transportasi pasif. Hampir semua zat berpindah dengan mekanisme transportasi pasif. Diffusi sederhana adalah perpindahan partikel-partikel dalam segala arah melalui larutan atau gas.Beberapa faktor yang mempengaruhi mudah tidaknya difusi zat terlarut menembus membran kapiler dan sel yaitu :
a) Permeabilitas membran kapiler dan sel
b) Konsenterasi
c) Potensial listrik
d) Perbedaan tekanan.
Osmosis adalah proses difusi dari air yang disebabkan oleh perbedaan konsentrasi. Difusi air terjadi pada daerah dengan konsentrasi zat terlarut yang rendah ke daerah dengan konsentrasi zat terlarut yang tinggi. Perpindahan zat terlarut melalui sebuah membran sel yang melawan perbedaan konsentrasi dan atau muatan listrik disebut transportasi aktif.
Transportasi aktif berbeda dengan transportasi pasif karena memerlukan energi dalam bentuk adenosin trifosfat (ATP). Salah satu contonya adalah transportasi pompa kalium dan natrium.
Natrium tidak berperan penting dalam perpindahan air di dalam bagian plasma
dan bagian cairan interstisial karena konsentrasi natrium hampir sama pada kedua
bagian itu. Distribusi air dalam kedua bagian itu diatur oleh tekanan hidrostatik yang dihasilkan oleh darah kapiler, terutama akibat oleh pemompaan oleh jantung dan tekanan osmotik koloid yang terutama disebabkan oleh albumin serum.
Proses perpindahan cairan dari kapiler ke ruang interstisial disebut ultrafilterisasi.
Contoh lain proses filterisasi adalah pada glomerolus ginjal.
Meskipun keadaan di atas merupakan proses pertukaran dan pergantian yang terus menerus namun komposisi dan volume cairan relatif stabil, suatu keadaan yang disebut keseimbangan dinamis atau homeostatis.

5. Pengaturan Volume Cairan Tubuh
Di dalam tubuh seorang yang sehat volume cairan tubuh dan komponen kimia dari cairan tubuh selalu berada dalam kondisi dan batas yang nyaman. Dalam kondisi normal intake cairan sesuai dengan kehilangan cairan tubuh yang terjadi. Kondisi sakit dapat menyebabkan gangguan pada keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh.
Dalam rangka mempertahankan fungsi tubuh maka tubuh akan kehilanagn cairan antara lain melalui proses penguapan ekspirasi, penguapan kulit, ginjal (urine), ekresi pada proses metabolisme.
a. Intake Cairan : Selama aktifitas dan temperatur yang sedang seorang dewasa minum kira-kira 1500 ml per hari, sedangkan kebutuhan cairan tubuh kira-kira 2500 ml per hari sehingga kekurangan sekitar 1000 ml per hari diperoleh dari makanan, dan oksidasi selama proses metabolisme. Pengatur utama intake cairan adalah melalui mekanisme haus. Pusat haus dikendalikan berada di otak Sedangkan rangsangan haus berasal dari kondisi dehidrasi intraseluler, sekresi angiotensin II sebagai respon dari penurunan tekanan darah, perdarahan yang mengakibatkan penurunan volume darah. Perasaan kering di mulut biasanya terjadi bersama dengan sensasi haus walupun kadang terjadi secara sendiri.
Sensasi haus akan segera hilang setelah minum sebelum proses absorbsi oleh
tractus gastrointestinal.

b. Output Cairan : Kehilangan caiaran tubuh melalui empat rute (proses) yaitu :
1) Urine  
Proses pembentukan urine oleh ginjal dan ekresi melalui tractus urinarius
merupakan proses output cairan tubuh yang utama. Dalam kondisi normal output urine sekitar 1400-1500 ml per 24 jam, atau sekitar 30-50 ml per jam. Pada orang dewasa. Pada orang yang sehat kemungkinan produksi urine bervariasi dalam setiap harinya, bila aktivitas kelenjar keringat meningkat maka produksi urine akan menurun sebagai upaya tetap mempertahankan keseimbangan dalam tubuh.
2) IWL (Invisible Water Loss)
IWL terjadi melalui paru-paru dan kulit, Melalui kulit dengan mekanisme difusi. Pada orang dewasa normal kehilangan cairan tubuh melalui proses ini adalah berkisar 300-400 mL per hari, tapi bila proses respirasi atau suhu tubuh meningkat maka IWL dapat meningkat.
3) Keringat    
Berkeringat terjadi sebagai respon terhadap kondisi tubuh yang panas, respon ini berasal dari anterior hypotalamus, sedangkan impulsnya ditransfer melalui sumsum tulang belakang yang dirangsang oleh susunan syaraf simpatis pada kulit.
4) Feces
Pengeluaran air melalui feces berkisar antara 100-200 mL per hari, yang
diatur melalui mekanisme reabsorbsi di dalam mukosa usus besar (kolon).

6. Faktor yang Berpengaruh pada Keseimbangan Cairan dan Elektrolit
Faktor-faktor yang berpengaruh pada keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh
antara lain :
a.         Umur
Kebutuhan intake cairan bervariasi tergantung dari usia, karena usia akan berpengaruh pada luas permukaan tubuh, metabolisme, dan berat badan. Infant dan anak-anak lebih mudah mengalami gangguan keseimbangan cairan dibanding usia dewasa. Pada usia lanjut sering terjadi gangguan keseimbangan cairan dikarenakan gangguan fungsi ginjal atau jantung.
  1. Iklim
Orang yang tinggal di daerah yang panas (suhu tinggi) dan kelembaban udaranya rendah memiliki peningkatan kehilangan cairan tubuh dan elektrolit melalui keringat. Sedangkan seseorang yang beraktifitas di lingkungan yang panas dapat kehilangan cairan sampai dengan 5 L per hari.
  1. Diet
      Diet seseorang berpengaruh terhadap intake cairan dan elektrolit. Ketika intake nutrisi tidak adekuat maka tubuh akan membakar protein dan lemak sehingga akan serum albumin dan cadangan protein akan menurun padahal keduanya sangat diperlukan dalam proses keseimbangan cairan sehingga hal ini akan menyebabkan edema.
d.      Stress  
Stress dapat meningkatkan metabolisme sel, glukosa darah, dan pemecahan glikogen otot. Mekanisme ini dapat meningkatkan natrium dan retensi air sehingga bila berkepanjangan dapat meningkatkan volume darah.

  1. Kondisi Sakit
Kondisi sakit sangat berpengaruh terhadap kondisi keseimbangan cairan
dan elektrolit tubuh Misalnya :
1) Trauma seperti luka bakar akan meningkatkan kehilangan air melalui
     IWL.
2) Penyakit ginjal dan kardiovaskuler sangat mempengaruhi proses
regulator keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh.
3)  Pasien dengan penurunan tingkat kesadaran akan mengalami gangguan pemenuhan intake cairan karena kehilangan kemampuan untuk memenuhinya secara mandiri.
f.               Tindakan Medis
Banyak tindakan medis yang berpengaruh pada keseimbangan cairan dan
elektrolit tubuh seperti : suction, nasogastric tube dan lain-lain.
g.      Pengobatan
Pengobatan seperti pemberian deuretik, laksative dapat berpengaruh pada
kondisi cairan dan elektrolit tubuh.
h.      Pembedahan
Pasien dengan tindakan pembedahan memiliki resiko tinggi mengalami gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh, dikarenakan kehilangan darah selama pembedahan.

B.Konsep Dasar Gangguan Volume Cairan
1. HIPOVOLEMIA (Kekurangan Volume Cairan)
  1. Pengertian
Kekurangan Volume cairan (FVD) terjadi jika air dan elektrolit hilang pada proporsi yang sama ketika mereka berada pada cairan tubuh normal sehingga rasio elektrolit serum terhadap air tetap sama. (Brunner & suddarth, 2002).
1)  Hipovolemia adalah suatu kondisi akibat kekurangan volume cairan ekstraseluler (CES).
2) Hipovolemia adalah penipisan volume cairan ekstraseluler (CES)
3)  Hipovolemia adalah kekurangan cairan di dalam bagian-bagian ekstraseluler (CES)
  1. Etiologi
Hipovolemia ini terjadi dapat disebabkan karena :
1) Penurunan masukan.
2) Kehilangan cairan yang abnormal melalui : kulit, gastro intestinal, ginjal abnormal,dll
3) Perdarahan.
c.       Patofisiologi
Kekurangan volume cairan terjadi ketika tubuh kehilangan cairan dan elektrolit ekstraseluler dalam jumlah yang proporsional (isotonik). Kondisi seperti ini disebut juga hipovolemia. Umumnya, gangguan ini diawali dengan kehilangan cairan intravaskuler, lalu diikuti dengan perpindahan cairan interseluler menuju intravaskuler sehingga menyebabkan penurunan cairan ekstraseluler. Untuk untuk mengkompensasi kondisi ini, tubuh melakukan pemindahan cairan intraseluler.
Secara umum, defisit volume cairan disebabkan oleh beberapa hal, yaitu kehilangan cairan abnormal melalui kulit, penurunan asupan cairan, perdarahan dan pergerakan cairan ke lokasi ketiga (lokasi tempat cairan berpindah dan tidak mudah untuk mengembalikanya ke lokasi semula dalam kondisi cairan ekstraseluler istirahat). Cairan dapat berpindah dari lokasi intravaskuler menuju lokasi potensial seperti pleura, peritonium, perikardium, atau rongga sendi. Selain itu, kondisi tertentu, seperti terperangkapnya cairan dalam saluran pencernaan, dapat terjadi akibat obstruksi saluran pencernaan.
d.      Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala klinik yang mungkin didapatkan pada klien dengan
hipovolemia antara lain : pusing, kelemahan, keletihan, sinkope, anoreksia, mual,muntah, haus, kekacauan mental, konstipasi, oliguria.
Tergantung pada jenis kehilangan cairan hipovolemia dapat disertai dengan  :

Tabel. 1. Pengkajian perubahan pada hipovolemia
Hipovelemia Ringan
Anoreksia
Hipovelemik Sedang
Hipotensi ortostatik
Hipovelemia Berat
Hipotensi Berbaring
Keletihan
Takikardia
Nadi cepat dan lemah
Kelemahan
Penurunan CVP
Penurunan haluaran urine
Dingin,kulit kusam oliguria. Kacau mental,stupor.

Tabel. 2. Penurunan berat badan sebagai indikator dari kekurangan CES pada orang dewasa dan anak-anak.
No
Penurunan Berat Badan Akut
Keparahan Defisit

2-5%
Ringan

5-10%
Sedang

10-15%
Berat

15-20%
Fatal
HASIL ANALISA GAS DARAH KETIDAKSEIMBANGAN ASAM BASA
Kondisi
pH
HCO3
PaCO2
Asam basa seimbang
Asidosis metabolic
Asidosis respiratorik
Alkalosis metabolic
Alkalosis respiratorik
7,35 -7,45
<7,35
<7,35
>7,45
>7,45
22 – 26 mEq/L
<22 mEq/L
Normal atau >26
>26 mEq/L
Normal atau <22
35 – 45 mmHg
Normal atau <35
>45 mmHg
Normal atau >45
<35 mmHg


ketidak seimbangan asam basa, osmolar atau elektrolit. Penipisan (CES) berat dapat menimbulkan syok hipovolemik.
Mekanisme kompensasi tubuh pada kondisi hipolemia adalah dapat berupa
peningkatan rangsang sistem syaraf simpatis (peningkatan frekwensi jantung,inotropik (kontraksi jantung) dan tahanan vaskuler), rasa haus, pelepasan hormone
antideuritik (ADH), dan pelepasan aldosteron. Kondisi hipovolemia yang lama dapat menimbulkan gagal ginjal akut.
  1. Komplikasi
Akibat lanjut dari kekurangan volume cairan dapat mengakibatkan :
1)        Dehidrasi (Ringan, sedang berat).
 2)    Renjatan hipovolemik.
 3)    Kejang pada dehidrasi hipertonik.
  1. Pemeriksaan Diagnostik
1) Pemeriksaan penunjang.
Penurunan tekanan darah (TD), khususnya bila berdiri (hipotensi ortostatik); peningkatan frekwensi jantung (FJ); turgor kulit buruk; lidah kering dan kasar; mata cekung; vena leher kempes; peningkatan suhu dan penurunan berat badan akut. Bayi dan anak - anak : penurunan air mata, depresi fontanel anterior. Pada pasien syok akan tampak pucat dan diaforetik dengan nadi cepat dan haus; hipotensi terlentang dan oliguria.
2) Riwayat kesehatan.
3) Evalusi status volume cairan.
4) Kadar Nitrogen Urea dalam darah (BUN) > 25mg/ 100 ml.
5) Peningkatan kadar Hematokrit > 50%.
6) Berat jenis urine > 1,025.
  1. Penatalaksanaan Medis
1)    Pemulihan volume cairan normal dan koreksi gangguan penyerta asam-basa dan elektrolit.
2)    Perbaikan perfusi jaringan pada syok hipovolemik.
3)    Rehidrasi oral pada diare pediatrik. Tindakan berupa hidrasi harus secara berhati-hati dengan cairan intravena sesuaipesanan / order dari medis.
Catatan: Rehidrasi pada kecepatan yang berlebihan dapat menyebabkan GJK (gagal ginjal jantung kongestif)
4) Tindakan terhadap penyebab dasar.
h.      Pedoman Penyuluhan pasien-keluarga
Beri pasien dan orang terdekat instruksi verbal dan tertulis tentang hal berikut :
1.    Tanda dan gejala hipovolemia.
2.    Pentingnya mempertahankan masukan adekuat, khususnya pada anak kecil dan lansia, yang lebih mungkin untuk terjadi dehidrasi.
3.    Obat-obatan : nama, dosis, frekwensi, kewaspadaan dan potensial efek samping.
  1. Asuhan Keperawatan
1) Pengkajian
Data Subjektif
a)    Kaji batasan karakteristik.
(1) Asupan cairan (jumlah dan jenis)
(2) Kulit (kering dan turgor)
(3) Penurunan berat badan (jumlah dan lamanya)
(4) Haluaran urine (berkurang dan meningkat)
b)    Kaji faktor-faktor yang berhubungan
(1)   Diabetes mellitus (diagnosa dan riwayat keluarga/diabetes insipidus)
(2)   Penyakit jantung
(3)   Penyakit ginjal
(4)   Gangguan atau bedah gastrointestinal
(5)   Penggunaan alcohol
(6)   Pengobatan : laksatif/enema, diuretic dan efek samping yang
 mengiritasi saluran pencernaan (antibiotika dan kemoterapi)
(7)   Alergi (makanan dan susu)
(8)   Panas tinggi/kelembaban
(9)   Olahraga yang terlalu banyak mengeluarkan keringat
(10)
Depresi
(11)
Nyeri
Data Objektif
a)         Kaji batasan karakteristik
1) Berat badan sekarang dan sebelum sakit
2) Asupan (1-2 hari terakhir)
3) Haluaran (1-2 hari terakhir)
4) Tanda-tanda dehidrasi
a)    Kulit : mukosa bibir kering, lidah berkerut atau kering, turgor kulit kurang elastis,warnakulit pucat atau memerah, kelembaban kering atau diforesis, fontanel bayi cekung dan bola mata cekung.
b)    Haluaran urine : jumlah bervariasi sangat banyak atau sedikit, warna kuning tua atau kuning jernih dan berat jenis naik atau turun.
b) Kaji faktor-faktor yang berhubungan
1)    Kehilangan GI abnormal : muntah, penghisapan NG, diare, drainase intestinal.
2)    Kehilangan kulit abnormal : diaforesis berlebihan sekunder terhadap demam atau latihan, luka bakar, fibrosis sistik.
3)    Kehilangan ginjal abnormal : terapi diuretik, diabetes insipidus, diuresis osmotik (bentuk poliurik), insufisiensi adrenal, diuresis osmotik (DM takterkontrol, pasca penggunaan zat kontras.
4)    Spasium ketiga atau perpindahan cairan plasma ke interstisial :
peritonitis, obtruksi usus, luka bakar, acites.
5)    Hemorragik
6)    Perubahan masukan : koma, kekurangan cairan.

2) Diagnosa Keperawatan
Kekurangan volume cairan adalah kondisi ketika individu, yang tidak menjalani puasa, mengalami atau resiko memgalami resiko dehidrasi vascular, interstisial, atau intravascular.
Batasan Karakteristik
a) Mayor :
(1) Ketidakcukupan asupan cairan per oral
(2) Balance negative antara asupan dan haluaran
(3) Penurunan berat badan
(4) Kulit/membrane mukosa kering ( turgor menurun)
b) Minor :
(1) Peningkatan natrium serum
(2) Penurunun haluaran urine atau haluaran urine berlebih
(3) Urine pekat atau sering berkemih
(4) Penurunan turgor kulit
(5) Haus, mual/anoreksia
Faktor yang berhubungan :
a.    Berhubungan dengan haluaran urine berlebih, sekunder akibat diabetes            insipidus.
b.    Berhubungan dengan peningkatan permeabilitas kapiler dan kehilangan cairan melalui evaporasi akibat luka bakar.
c.    Berhubungan dengan kehilangan cairan, sekunder akibat demam, drainase abnormal, dari luka, diare.
d.   Berhubungan dengan penggunaan laksatif, diuretic atau alcohol yang berlebihan.
e.  Berhubungan dengan mual, muntah.
f.  Berhubungan dengan motivasi untuk minum, sekunder akibat depresi atau keletihan.
g.  Berhubungan dengan masalah diet.
h.  Berhubungan denganpemberian makan perselang dengan konsentrasi tinggi.
i.   Berhubungan dengan konsentrasi menelan atau kesulitan makan sendiri akibat nyeri mulut.
Tujuan
Menyeimbangkan volume cairan sesuai dg. Kebutuhan tubuh.
Kriteria Hasil Individu akan :
a.    Meningkatkan masukan cairan minimal 2000 ml/hari (kecuali bila ada kontraindikasi).
b.    Menceritakan perlunya untuk meningkatkan masukan cairan selama stres atau panas.
c.    Mempertahankan berat jenis urine dalam batas normal.
d.   Memperlihatkan tidak adanya tanda dan gejala dehidrasi.
3) Intervensi
a) Kaji yang disukai dan yang tidak disukai; beri minuman kesukaan dalam batas diet.
b)   Rencanakan tujuan masukan cairan untuk setiap pergantian (mis; 1000 ml selama pagi, 800 ml sore, dan 200 ml malam hari).
c) Kaji pengertian individu tentang alasan-alasan untuk mempertahankan hidrasi yang adekuat dan metoda-metoda untuk mencapai tujuan masukan cairan.
d)           Untuk anak-anak, tawarkan :
(1)   Bentuk-bentuk cairan yang menarik (es krim bertangkai, jus dingin, es berbentuk kerucut)
(2)   Wadah yang tidak biasa (cangkir berwarna, sedotan)
(3)   Sebuah permainan atau aktivitas (suruh anak minum jika tiba giliran anak)
e) Suruh individu mempertahankan laporan yang tertulis dari masukan cairan dan haluaran urine, jika perlu.
f)  Pantau masukan; pastikan sedikitnya 1500 ml peroral setiap 24 jam.
g) Pantau haluaran; pastikan sedikitnya 1000-1500 ml setiap 24 jam.
h) Pantau berat jenis urine
i) Timbang berat badan setiap hari dengan jenis baju yang sama, kehilangan berat badan 2%-4% menunjukan dehidrasi ringan, 5%-9% dehidrasi sedang.
j)   Ajarkan bahwa kopi, teh, dan jus buah anggur menyebabkan diuresis dan dapat menambah kehilangan cairan.
k) Pertimbangkan kehilangan cairan tambahan yang berhubungan dengan muntah, diare, demam, selang drein.
l)   Pantau kadar elektrolit darah, nitrogen urea darah, urine dan serum osmolalitas, kreatinin, hematokrit, dan hemoglobin.
m) Untuk drainase luka :
(1) Pertahankan catatan yang cermat tentang jumlah dan jenis drainase.
(2) Timbang balutan, jika perlu, untuk memperkirakan kehilangan cairan.
(3)   Balut luka untuk meminimalkan kehilangan cairan.
(4)   Evaluasi
Evaluasi pada kekurangan volume cairan yaitu mengacu pada kriteria hasil yaitu:
a) Klien minum ± 2000 ml/hari.
b) Klien mengerti tentang pentingnya meningkatkan masukan cairan selama stress.
c) Berat jenis urine normal.
d) Tidak terjadi tanda-tanda dehirasi (mukosa bibir lembab, turgor kulit elastis).
2. HIPERVOLEMIA (Kelebihan Volume Cairan)
a. Pengertian
Keadaan dimana seorang individu mengalami atau berisiko mengalami
kelebihan cairan intraseluler atau interstisial. (Carpenito, 2000).
Kelebihan volume cairan mengacu pada perluasan isotonok dari CES yang disebabkan oleh retensi air dan natrium yang abnormal dalam proporsi yang kurang lebih sama dimana mereka secara normal berada dalam CES. Hal ini selalu terjadi sesudah ada peningkatan kandungan natrium tubuh total, yang pada akhirnya menyebabkan peningkatan air tubuh total. (Brunner & Suddarth. 2002).
b. Etiologi
Hipervolemia ini dapat terjadi jika terdapat :
1)        Stimulus kronis pada ginjal untuk menahan natrium dan air.
2)        Fungsi ginjal abnormal, dengan penurunan ekskresi natrium dan air.
3)        Kelebihan pemberian cairan intra vena (IV).
4)        Perpindahan cairan interstisial ke plasma.
c. Patofisiologi
Kelebihan volume cairan terjadi apabila tubuh menyimpan cairan dan elektrolit dalam kompartemen ekstraseluler dalam proporsi yang seimbang. Karena adanya retensi cairan isotonik, konsentrasi natrium dalam serum masih normal. Kelebihan cairan tubuh hampir selalu disebabkan oleh peningkatan jumlah natrium dalam serum. Kelebihan cairan terjadi akibat overload cairan / adanya gangguan mekanisme homeostatis pada proses regulasi keseimbangan cairan.
d. Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala klinik yang mungkin didapatkan pada klien dengan
hipervolemia antara lain : sesak nafas, ortopnea.
Mekanisme kompensasi tubuh pada kondisi hiperlemia adalah berupa pelepasan Peptida Natriuretik Atrium (PNA), menimbulkan peningkatan filtrasi dan ekskresi natrium dan air oleh ginjal dan penurunan pelepasan aldosteron dan ADH.
Abnormalitas pada homeostatisis elektrolit, keseimbangan asam-basa dan
osmolalitas sering menyertai hipervolemia. Hipervolemia dapat menimbulkan gagal jantung dan edema pulmuner,khususnya pada pasien dengan disfungsi kardiovaskuler
e. Komplikasi
Akibat lanjut dari kelebihan volume cairan adalah :
1)      Gagal ginjal, akut atau kronik
2)      Berhubungan dengan peningkatan preload, penurunan kontraktilitas, dan penurunan curah jantung
3)      Infark miokard
4)      Gagal jantung kongestif
5)      Gagal jantung kiri
6)       Penyakit katup
7)      Takikardi/aritmia Berhubungan dengan hipertensi porta, tekanan osmotik koloid plasma rendah, etensi natrium
8)      Penyakit hepar : Sirosis, Asites, Kanker
9)      Berhubungan dengan kerusakan arus balik vena
10)  Varikose vena
11)  Penyakit vaskuler perifer
12)  Flebitis kronis
f.  Pemeriksaan Diagnostik
1) Pemeriksaan Fisik
Oedema, peningkatan berat badan, peningkatan TD (penurunan TD saat
jantung gagal) nadi kuat, asites, krekles (rales). Ronkhi, mengi, distensi vena
leher, kulit lembab, takikardia, irama gallop
2) Protein rendah
3) Anemia
4) Retensi air yang berlebihan
5) Peningkatan natrium dalam urine
g. Penatalaksanaan Medis
Tujuan terapi adalah mengatasi masalah pencetus dan mengembalikan CES
pada normal. Tindakan dapat berupa hal berikut :
1) Pembatasan natrium dan air.
2) Diuretik.
3) Dialisi atau hemofiltrasi arteriovena kontinue : pada gagal ginjal atau
  
kelebihan beban cairan yang mengancam hidup.
h.  Pedoman Penyuluhan Keluarga Beri pasien dan orang terdekat instruksi verbal dan tertulis tentang hal berikut:
1) Tanda dan gejala hipervolemia.
2) Gejala-gejala yang memerlukan pemberitahuan dokter setelah pulang
dari rumah sakit; sesak nafas, nyeri dada, ketidakteraturan nadi baru.
3) Diet rendah garam, bila diprogramkan; gunakan pengganti garam; dan hindari makanan yang mengandung natrium tinggi.
4) Obat-obatan : termasuk nama, tujuan, dosis, frekwensi, kewaspadaan dan
potensial efek samping; tanda dan gejala hipokalemia bila pasien menggunakan diuretik.
5)  Pentingnya pembatasan cairan bila hipervolemia berlanjut.
6)  Pentingnya penimbangan berat badan setiap hari.
i.   Asuhan Keperawatan
1) Pengkajian
Data Subjektif
a.    Kaji batasan karakteristik
Riwayat gejala
Adanya keluhan :
(a) Napas pendek
(b) Penambahan berat badan
(c) Awitan/durasi
(d) Lokasi
(e) Gambaran
(f) Kelemahan/keletihan
(g) Edema
b.    Kaji faktor-faktor yang berhubungan
(1)   Riwayat faktor-faktor penyebab dan penunjang
(a) Riwayat diabetes pada keluarga atau perorangan
(b) Kehamilan
(c) Awal menstruasi
(d) Penyakit jantung atau gagal ginjal
(e) Penyakit hati
(f) Alkoholik
(g) Hiper atau hipertiroidisme
(h) Terapi steroid
(i) Malnutrisi
(j) Masukan garam berlebihan
(k) Penggunaan enema air hangat yang berlebihan
 (l) Obstruksi limfatik
(m) Penggantian cairan yang berlebihan

(2)   Masukan nutrisi
(a) Perkiraan masukan protein (adekuat/tak adekuat)
(b) Perkiraan masukan kalori (adekuat/tak adekuat/kelebihan)
(c) Perkiraan masukan cairan (adekuat/tak adekuat/kelebihan)
(d) Konsumsi alcohol setiap hari (jenis dan jumlah)
(e) Masukan dan haluaran dalam 24-72 jam
Data Objektif
a)        Kaji batasan karakteristik
(1)   Tanda kelebihan cairan
(a)  Nadi (kuat atau tidak teratur).
(b) Pernapasan : frekuensi (takipnea), kualitas dangkal, bunyi paru ronki, tekanan darah meningkat.
(2)   Edema
(a)   Tekan ibu jari paling sedikit 5 detik, catat sisa sisa lekukannya.
(b)   Catat derajat dan lokasi (kaki, tumit, tangan, sacrum, keseluruhan secara umum).
(3)   Penambahan berat badan (timbang berat badan setiap hari dengan timbangan yang sama).
(4)   Distensi vena leher (distensi vena setinggi 45 derajat mungkin ada indikasi terjadinya kelebihan cairan atau berkurangnya curah jantung.

2) Diagnosa Keperawatan
Kelebihan volume cairan adalah Kondisi ketika individu mengalami atau
beresiko mengalami kelebihan beban cairan intraseluler atau interstisial.
Batasan Karakteristik
Mayor :
a) Edema
b) Kulit tegang, mengkilap
Minor :
a) Asupan melebihi haluaran
b) Sesak napas
c) Kenaikan berat badan
Faktor yang berhubungan :
a.    Berhubungan dengan gangguan mekanisme regulasi cairan, sekunder akibat gagal jantung.
b.    Berhubungan dengan preload, penurunan kontraktilitas, dan penurunan curah jantung, sekunder akibat infark miokard, gagal jantung, penyakit katup jantung Berhubungan dengan hipertensi porta, tekanan osmotic, koloid plasma yang rendah, retensi natrium, sekunder akibat penyakit hepar, serosis hepatis, asites, dan kanker.
c.    Berhubungan dengan gangguan aliran balik vena, sekunder akibat
varises vena, thrombus, imobilitas, flebitis kronis.
d. Berhubungan dengan retensi natrium dan air, sekunder akibat
penggunaan kortikosteroid.
e.  Berhubungan dengan kelebihan asupan natrium/cairan.
f.  Berhubungan dengan rendahnya asupan protein pada diet lemak,
malnutrisi.
g. Berhubungan dengan venostasis/bendungan vena, sekunder akibat imobilitas, bidai atau balutan yang kuat, serta berdiri atau duduk dalam waktu yang lama.
h.  Berhubungan dengan kompresi vena oleh uterus pada saat hamil
i.   Berhubungan dengan drainase limfatik yang tidak adekuat, sekunder akibat mastetomi.
Tujuan
Kebutuhan cairan klien dapat terpenuhi sesuai dengan kebutuhan tubuh klien. Kriteria Hasil
Individu akan :
(1)   Mengungkapkan faktor -faktor penyebab dan metode-metode pencegahan edema.
(2)   memperlihatkan penurunan edema perifer dan sakral.

3) Intervensi
a)  Kaji asupan diet dan kebiasaan yang mendorong terjadinya retensi cairan.
b)  Anjurkan individu untuk menurunkan masukan garam.
c)  Ajarkan individu untuk.
d) Membaca label untuk kandungan natrium.
e) Hindari makanan yang menyenangkan, makanan kaleng, dan makanan beku.
f)  Masak tanpa garam dan gunakan bumbu-bumbu untuk menambah rasa (lemon, kemangi, mint).
g)  Gunakan cuka mengganti garam untuk rasa sop, rebusan, dan lain-lain.
h) Kaji adanya tanda-tanda venostatis pada bagian tergantung.
i)   Jaga ekstremitas yang mengalami edema setinggi diatas jantung apabila mungkin (kecuali jika terdapat kontraindikasi oleh gagal jantung).
j)   Instruksikan individu untuk menghindari celana yang terbuat dari kaos/korset, celana setingga lutut, dan menyilangkan tungkai bawah dan latihan tetap meninggikan tungkai bila mungkin.
k) Untuk drainase yang tidak adekuat :
(1)  Jaga ekstremitas ditinggikan diatas bantal.
(2)  Ukur tekanan darah pada lengan yang tidak sakit.
(3)  Jangan memberi suntikan atau memasukan cairan intravena pada
lengan yang sakit.
(4)  Lindungi lengan yang sakit dari cedera.
(5)   Anjurkan individu untuk menghindari deterjen yang kuat, membawa kantong yang berat, merokok, mencederai kulit ari atau bintil pada kuku, meraih kedalam oven yang panas, menggunakan perhiasan atau jam tangan, atau menggunakan bando.
(6)   Peringatkan individu untuk menemui dokter jika lengan menjadi
merah, bengkak, atau keras lain dari biasa.
(7)   Lindungi lengan yang edema dari cedera.

4) Evaluasi
Evaluasi pada kelebihan volume cairan yaitu mengacu pada kriteria hasil yaitu :
a) Klien tahu apa penyebab edema dan sudah mengerti tentang
pencegahan edema.
b)   Tidak ada tanda-tanda edema.

3. GANGGUAN KESEIMBANGAN ASAM DAN BASA
Derajat keasaman merupakan suatu sifat kimia yang penting dari darah dan cairan tubuh lainnya.Satuan derajat keasaman adalah pH:
·                       pH 7,35 – 7,45 adalah netral
·                       pH diatas 7,45 adalah basa (alkali)
·                       pH dibawah 7,35 adalah asam.
Suatu asam kuat memiliki pH yang sangat rendah (hampir 1,0); sedangkan suatu basa kuat memiliki pH yang sangat tinggi (diatas 14,0). Darah memiliki ph antara 7,35-7,45. Keseimbangan asam-basa darah dikendalikan secara seksama, karena perubahan pH yang sangat kecil pun dapat memberikan efek yang serius terhadap beberapa organ.
Tubuh menggunakan 3 mekanisme untuk mengendalikan keseimbangan asam-basa darah:
1.      Kelebihan asam akan dibuang oleh ginjal, sebagian besar dalam bentuk amonia.
·        Ginjal memiliki kemampuan untuk mengatur jumlah asam atau basa yang dibuang, yang biasanya berlangsung selama beberapa hari.
2.      Tubuh menggunakan penyangga pH (buffer) dalam darah sebagai pelindung terhadap perubahan yang terjadi secara tiba-tiba dalam pH darah.
·         Suatu penyangga ph bekerja secara kimiawi untuk meminimalkan perubahan pH suatu larutan.Penyangga pH yang paling penting dalam darah adalah bikarbonat. Bikarbonat (suatu komponen basa) berada dalam kesetimbangan dengan  karbondioksida (suatu komponen asam).
·         Jika lebih banyak asam yang masuk ke dalam aliran darah, maka akan dihasilkan lebih banyak bikarbonat dan lebih sedikit karbondioksida.
·         Jika lebih banyak basa yang masuk ke dalam aliran darah, maka akan dihasilkan lebih banyak karbondioksida dan lebih sedikit bikarbonat.
3.      Pembuangan karbondioksida.
·           Karbondioksida adalah hasil tambahan penting dari metabolisme oksigen dan terus menerus yang dihasilkan oleh sel.
·           Darah membawa karbondioksida ke paru-paru dan di paru-paru karbondioksida tersebut dikeluarkan (dihembuskan).
·           Pusat pernafasan di otak mengatur jumlah karbondioksida yang dihembuskan dengan mengendalikan kecepatan dan kedalaman pernafasan.
·           Jika pernafasan meningkat, kadar karbon dioksida darah menurun dan darah menjadi lebih basa.
·           Jika pernafasan menurun, kadar karbondioksida darah meningkat dan darah menjadi lebih asam.Dengan mengatur kecepatan dan kedalaman pernafasan,maka pusat pernafasan dan paru-paru mampu mengatur pH darah menit demi menit.
·           Nilai pH dapat dilihat dari darah arterial dengan rentang normal
7,35-7,45. Harga normal hasil pemeriksaan laboratorium analisis gas
darah adalah sbb:
ü pH 7,35-7,45
ü pO2 80-100 mmHg
ü pCO2 35-45 mmHg
ü [HCO3-] 21-25 mmol/L
ü Base excess -2 s/d +2
Adanya kelainan pada satu atau lebih mekanisme pengendalian pH tersebut, bisa menyebabkan salah satu dari 2 kelainan utama dalam keseimbangan asam basa, yaitu asidosis atau alkalosis.
Faktor-faktor yang berpengaruh dalam keseimbangan asam basa adalah :
1.    Konsentrasi ion hidrogen [H+]
2.    Konsentrasi ion bikarbonat [HCO3-]
3.    pCO2
Berikut perbandingan peranan masing-masing faktor dalam diagnosis
gangguan asam basa :
Disebut asidosis Bila konsentrasi H+ meningkat, maka pH turun alkalosis Bila konsentrasi H+ turun, maka pH naik - Bila HCO3- berubah secara signifikan dalam kondisi tersebut, disebut suatu keadaan metabolic - Bila pCO2 berubah secara signifikan dalam kondisi tersebut, disebut suatu keadaan respiratorik
Dari konsep tersebut, didapatkan empat kondisi, yaitu :
1. Asidosis metabolik
2. Asidosis respiratorik
3. Alkalosis metabolik
4. Alkalosis respiratorik
1. ASIDOSIS
v  Asidosis adalah suatu keadaan pada saat darah terlalu banyak mengandung asam (atau terlalu sedikit mengandung basa) dan sering menyebabkan menurunnya pH darah.
1)        Asidosis Respiratorik
Defenisi : Asidosis Respiratorik adalah keasaman darah yang berlebihan karena penumpukan karbondioksida dalam darah sebagai akibat dari fungsi paru-paru yang buruk atau pernafasan yang lambat.
Kecepatan dan kedalaman pernafasan mengendalikan jumlah karbondioksida dalam darah.Dalam keadaan normal, jika terkumpul karbondioksida, pH darah akan turun dan darah menjadi asam.
Tingginya kadar karbondioksida dalam darah merangsang otak yang mengatur pernafasan, sehingga pernafasan menjadi lebih cepat dan lebih dalam.
Penyebab Asidosis respiratorik terjadi jika paru-paru tidak dapat mengeluarkan karbondioksida secara adekuat.
Hal ini dapat terjadi pada penyakit-penyakit berat yang mempengaruhi paru-paru, seperti:
-      Emfisema
-      Bronkitis kronis
-      Pneumonia berat
-      Edema pulmoner
-      Asma.
Asidosis respiratorik dapat juga terjadi bila penyakit-penyakit dari saraf atau otot dada menyebabkan gangguan terhadap mekanisme pernafasan.
Selain itu, seseorang dapat mengalami asidosis respiratorik akibat narkotika dan obat tidur yang kuat, yang menekan pernafasan.
Gambaran Klinis
1. Hipoksia
2. Vasodilatasi (karena CO2 ↑)
Diagnosis :Biasanya diagnosis ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan pH darah dan pengukuran karbondioksida dari darah arteri.
Laboratorium: pH ↓ – pCO2 ↑ – HCO3 ↑ – BE (+)
Penatalaksanaan : Pengobatan asidosis respiratorik bertujuan untuk meningkatkan fungsi dari paru-paru.Obat-obatan untuk memperbaiki pernafasan bias diberikan kepada penderita penyakit paru-paru seperti asma dan emfisema.Pada penderita yang mengalami gangguan pernafasan berat mungkin perlu diberikan pernafasan buatan dengan bantuan ventilator mekanik.
Pemeriksaan Diagnostik
·      pH arteri : menurun, kurang dari 7,35
·      bikarbonat : normal atau meningkat, lebih besar dari 26mEq/L (pada tahap kronis)
·      PaCO2 : meningkat lebih besar dari 45mmHg (primer)
·      PO2 : normal atau menurun
·      Saturasi O2 : menurun
·      pH urine : menurun 6,0
·      kalium serum : normal atau meningkat
·      kalsium serum : meningkat
·      klorida : menurun
·      asam laktat meningkat

TINDAKAN/INTERVENSI
Mandiri 
ü Pantau frekuensi, kedalaman dan upaya pernapasan  pehatikan hasil nadi oksimetri




ü Auskultasi bunyi napas.


ü Kaji terhadap penurunan tingkat kesadaran.



ü Pantau frekuensi/irama jantung.





ü Perhatikan warna, suhu, dan kelembaban kulit.


ü Dorong/bantu dengan membalikkan batuk, dan napas dalam tempatkam pada posisi semi-fowler penghisapan perlu . beikan tambahan jalan napas sesuai indikasi.
RASIONAL 

ü Hipoventilasi dan hipoksimia penyerta menimbulkan disres/gagal pernapasan. Penggunaan nadi oksimetri dapat mengidentifikasi kelanjutan hipoksia/respons terhadap terapi srbelum tanda lain atau gejala diobservasi.
ü Mengidentifikasi penurunan ventilasi/obstruksi jalan napas dan kebutuhan/keefektifan terapi.
ü Tanda status asidotik, yang memerlukan perhatian segera. Sensorium jernih dengan perlahan karena ini memerlukan waktu lama untuk ion hidrogen bersih dari CSS. 
ü Takikarkida terjadi pda upya untuk meningkatkan pemberian O2 ke jaringan. Disritmia dapat terjadi karena hipoksia    ( iskemia miokardia ) dan tidak keseimbangan elektrolit. 
ü Diaforesis. Pucat, kulit dingin/lembab berkenan dengan hipoksemia.

ü Tindakan ini meperbaiki ventilasi dan mencegah obstruksi jalan napas atau penurunan difusi/perfusi alveolar.

Kolaborasi
ü Bantu identivikasi/pengobatan penyebab dasar
ü Pantau/grafik seri GDA; kadar elektrolit serum
ü Berikan O2 sesuai indikasi debgan masker, kanula, atau ventilasi mekanik. Tingkatan frekuensi atau volume tidal ventilator.



ü Berikan obat-obatan sesuai indikasi:
ü  Nalokson hidroklorida (Narcan);


ü  Natrium bikarbonat;





ü  Larutan IV dari laktat Ringer atau larutan 0,6 M Na laktat



ü  Kalium klorida;






ü Batasi penggunaan sedatif hipnotik atau tranquilizer.


ü Pehatikan hidrasi (IV/PO)/berikan pelembab.
ü Berikan fisioterapi dada, termsuk drainase postural.


ü Bantu dalam alat bantu ventilator mis., IPPB dalam hubungannya dengan bronkodilator.

ü Rujuk pada daftar faktor predisposisi/pemberat.
ü Mengevaluasi kebutuhan/keefektifan terapi.
ü Mencegah atau memperbaiki hipoksemia dan gagal pernafasan. Catatan: harus digunakan dengan kewaspadaan pada adanya emfisema/PPOM karena depresi/gagal pernapasan dapat terjadi.

ü Bermanfaat dalm membangunkan pasien dan merangsang fungsi pernafasan pada adanya obat sedasi.
ü Diberikan pada situasi darurat untuk memperbaiki asidosis bila pH berkurang dari 7,25 dan hiperkelemia penyerta. Catatan: alkalosis rebound atau tetani dapat terjadi.
ü Mungkin bemanfaat dalm situasi tidak darurat untuk membantu mengontrol asidosis, sampai masalah pernapasan dasar dapat diperbaiki.
ü Asidosis perpindahan kalium keluar dari sel dan hidrogen ke dalam sel. Perbaikan asidosis kemudian dapat menyebabkan hipokelemia serum saat kalium masuk kembali ke sel. Keseimbangan pun dapat merusak fungsi neuromuskular/ pernapasan .
ü Pada adanya hipoventilasi, depresi pernafasan dapat terjadi dengan penggunaan sedatif, dan dapat terjadi narkosis CO2.
ü  Membantu dalam pengenceran / mobilitas sekresi.
ü Membantu dalam pembersihan sekresi yang dapat memperbaiki ventilasi, memungkinkan kelebihan CO2 untuk dikeluarkan.
ü Meningkatkan ekspansi paru dan membuka jalan napas untuk memperbaiki ventilasi yang mencegah gagal napas.

2.    Asidosis Metabolik
Defenisi : Asidosis Metabolik adalah keasaman darah yang berlebihan, yang ditandai dengan rendahnya kadar bikarbonat dalam darah.
Bila peningkatan keasaman melampaui sistem penyangga pH, darah akan benar-benar menjadi asam.
Seiring dengan menurunnya pH darah, pernafasan menjadi lebih dalam dan lebih cepat sebagai usaha tubuh untuk menurunkan kelebihan asam dalam darah dengan cara menurunkan jumlah karbon dioksida.
Pada akhirnya, ginjal juga berusaha mengkompensasi keadaan tersebut dengan cara mengeluarkan lebih banyak asam dalam air kemih.
Tetapi kedua mekanisme tersebut bisa terlampaui jika tubuh terus menerus menghasilkan terlalu banyak asam, sehingga terjadi asidosis berat dan berakhir dengan keadaan koma.
Penyebab
Penyebab asidosis metabolik dapat dikelompokkan kedalam 3 kelompok utama:
1.         Jumlah asam dalam tubuh dapat meningkat jika mengkonsumsi suatu asam atau suatu bahan yang diubah menjadi asam.
·      Sebagian besar bahan yang menyebabkan asidosis bila dimakan dianggap beracun.Contohnya adalah metanol (alkohol kayu) dan zat anti beku (etilen glikol).Overdosis aspirin pun dapat menyebabkan asidosis metabolik.
2.    Tubuh dapat menghasilkan asam yang lebih banyak melalui metabolisme.
·      Tubuh dapat menghasilkan asam yang berlebihan sebagai suatu akibat dari beberapa penyakit; salah satu di antaranya adalah diabetes melitus tipe I.
·      Jika diabetes tidak terkendali dengan baik, tubuh akan memecah lemak dan menghasilkan asam yang disebut keton.
·      Asam yang berlebihan juga ditemukan pada syok stadium lanjut, dimana asam laktat dibentuk dari metabolisme gula.
3.    Asidosis metabolik bisa terjadi jika ginjal tidak mampu untuk membuang asam dalam jumlah yang semestinya.
·      Bahkan jumlah asam yang normal pun bisa menyebabkan asidosis jika ginjal tidak berfungsi secara normal.
·      Kelainan fungsi ginjal ini dikenal sebagai asidosis tubulus renalis (ATR) atau rhenal tubular acidosis (RTA), yang bisa terjadi pada penderita gagal ginjal atau penderita kelainan yang mempengaruhi kemampuan ginjal untuk membuang asam.
Penyebab utama dari asidois metabolik:
·      Gagal ginjal
·      Asidosis tubulus renalis (kelainan bentuk ginjal)
·      Ketoasidosis diabetikum
·      Asidosis laktat (bertambahnya asam laktat)
·      Bahan beracun seperti etilen glikol, overdosis salisilat, metanol, paraldehid, asetazolamid atau amonium klorida
·      Kehilangan basa (misalnya bikarbonat) melalui saluran pencernaan karena diare, ileostomi atau kolostomi.
Gambaran klinis
1.   Asidosis metabolik ringan bisa tidak menimbulkan gejala, namun biasanya penderita merasakan mual, muntah dan kelelahan.
2.   Pernafasan menjadi lebih dalam atau sedikit lebih cepat, namun kebanyakan penderita tidak memperhatikan hal ini.
3.   Sejalan dengan memburuknya asidosis, penderita mulai merasakan kelelahan yang luar biasa, rasa mengantuk, semakin mual dan mengalami kebingungan.
4.   Bila asidosis semakin memburuk, tekanan darah dapat turun, menyebabkan syok, koma dan kematian.
Diagnosis
Diagnosis asidosis biasanya ditegakkan berdasarkan hasil pengukuran pH darah yang diambil dari darah arteri (arteri radialis di pergelangan tangan). Darah arteri digunakan sebagai contoh karena darah vena tidak akurat untuk mengukur pH darah.
Untuk mengetahui penyebabnya, dilakukan pengukuran kadar karbon dioksida dan bikarbonat dalam darah. Mungkin diperlukan pemeriksaan tambahan untuk membantu menentukan penyebabnya.
Misalnya kadar gula darah yang tinggi dan adanya keton dalam urin biasanya menunjukkan suatu diabetes yang tak terkendali.
Adanya bahan toksik dalam darah menunjukkan bahwa asidosis metabolik yang terjadi disebabkan oleh keracunan atau overdosis. Kadang-kadang dilakukan pemeriksaan air kemih secara mikroskopis dan pengukuran pH air kemih.
Penatalaksanaan
Pengobatan asidosis metabolic tergantung pada penyebabnya.Sebagai contoh diabetes dikendalikan dengan insulin atau keracunan diatasi dengan membuang bahan racun tersebut dari dalam darah.Kadang-kadang perlu dilakukan dialisa untuk mengobati overdosis atau keracunan berat.
Tujuan koreksi – mengganti defisit basa :
·           Dipakai Na bikarbonat/ natrium laktat
·           Rumus: BE x BB x 0.3 = jumlah mEq bikarbonat yg diperlukan 2 – 4 mEq/ kgBB
·           Cara: diencerkan dengan D 5 % – berikan perlahan-lahan
Pemeriksaan Diagnostik
·           Ph arteri : penurunan kurang 7,35
·           Bikarbonat : penurunan, kurang dari 22 mEq/L
·           PaCo2 : kurang sari 35-40 mmHg
·           Kelebihan basa : penurunan atau tidak ada.
·           Gap anion : Lebih besar dari 14 mEq/L. (gap anion tinggi) atau tidak lebih besar dari 10 sampai 14mEq/L (gap anion normal)
·           Kalium serum : peningkatan
·           Klorida serum : Meningkat
·           Glkosa serum : Mungkin turun atau meningkat tergantung pada etiologi
·           Keton serum : meningkat pada DM, kelaparan,intoksikasi alkohol
·           Asam laktat plasma : meningkat pada asidosis lktat
·           Ph urine menurun, kurang dari 4,5 (pada tidak adanya penyakit ginjal)
·           EKG : Distrimia jantung (bradikardia) dan perubahan pola berkenaan dengan hiperkalemia misalnya T tinggi.
Tindakan/Intervensi
Mandiri
ü Pantau TD.



ü Kaji tingkat kesadaran dan perhatkan kemajuan perubahan pada status neuromuskular mis., kekuatan, tonus, gerakan.
ü Berikan kewaspadaan kejang/koma mis., tempat tidur posisi rendah, penggunaan pagar tempat tidur, observasi sering.
ü Pantau frekuensi/ \irama jantung.





ü Observasi terhadap perubahan pengembangan pernapasan frekuensi, dan kedalaman.







ü Kaji suhu kulit, warna, pengisian kapiler.

ü Austultasi bising usus, ulur lingkar abdomen sesuai indikasi
ü Pantau masukan dan haluaran dengan ketat dan timbang berat badan setiap hari
ü Tes/pantau pH urine


ü Berikan higiene oral dengan natrium bikarbonat, swab lemon/gliserin
Rasional

ü Dilandasi arteriol/penurunan kontraklilitas jantung, (mis.,sepsis) dan terjadi hipovolemia (mis., ketoasidosi) meng akibatkan syok mis., hipotensi dan hipoksia jaringan.
ü Menurunkan funsi mental, kacau mental, kejang, kelemahan, paralisis flaksid dapat terjadi karena hipoksia, hiperkalemia, dan penurunan pH cairan SSP.
ü Melindungi pasien dari cedera akibat dari penurunan mental/kacau mental


ü Asidemia dapat dimanifestasikan oleh perubahan pada konfigurasi EKG dan adanya takidisritmia atau bradidisritmia serta peningkatan iritabilitas ventrikel ( hiperkalemia ) . kolaps kardiovaskular mengancam hidup dapat juga terjadi karena vasodaliatasi dan penurunan kontraktilitas jantung.
ü Pernapasan dalam dan cepat ( kussmaul ) dapat terlihat sebagai mekanisme kompensasi untuk mengeluarkan kelebihan asam.  Namun, saat memindahkan kalium keluar dari sel dalam upaya untuk memperbaiki asidosis, pernapasan, dapat menjadi depresi.  Depresi pernapasan sementara mungkin akibat dari perbaikan berlebihan terhadap asidosis metabolik dengan natrium bkarbonat 
ü Mengevaluasi status sirkulasi, perfusi jaringan, efek hipotensi.
ü Pada adanya hiperkalemia penyerta, distress GI (mis., distensi, diare, dan kholik) dapat terjadi
ü Dehidrasi nyata mungkin ada karena muntah, diare. Kebutuhan terapi didasarkan pada penyebab dasar dan keseimbangan cairan.
ü Ginjal berisaha untuk mengkompensasi asidosis dengan mengekskresi kelebihan hidrogen dalam bentuk asam lemah dan amonia. Keasaman urine maksimum adalah pH 4.0
ü Menetralisasi keasaman mulut dan memberikan lubrikasi perlindungan.
Kolaborasi
ü Bantu dengan identifikasi/ pengobatan penyebab dasar
ü Panta/grafik seri GDA.


ü Gantikan cairan, sesuai indikasi tergantung pada etiologi dasar mis., larutan salin/D5W.

ü Berikan obat-obatan sesuai indikasi mis.,
ü  Natrium bikarbonat/laktat atau salin IV;



ü  Kalium klorid

ü  Fosfat;


ü  Kalsium;

ü Ubah diet sesuai indikasi  mis., protein rendah, tinggi karbihidrat pada adanya gagal atau diet ADA untuk diabetik.

ü Berikan penukar resin dan/atau bantuan dengan dialisa sesuai indikasi.


ü Rujuk pada daftar faktor predisposisi/pemberat.

ü Mengevaluasi kebutuhan/keefektifan terapi. Bikarbonat darah dan pH harus dengan perlaha meningkat kearah tingkat normal.
ü Pilihan larutan bervariasi dengan penyebab asidosis mis., DKA. Catatan: larutan mengandung laktat mungkin kontrakdiksi pada adanya asidosis laktat.


ü Memperbaiki kekurangan bikarbonat, tetapi digunakan dengan kewaspadaan untuk memperbaiki asidosis berat (pH kurang dari 7,2) karena natrium bikarbonat dapat menyebab alkalosis metabolik rebound
ü Mungkin diperlukan sebagai kalium yang kembali masuk ke sel, menyebabkan kekurangan serum.
ü Dapat diberikan untuk meningkatan ekskresi asam pada adanya asidosis kronis dengan hipofosfatemia.
ü Dapat diberikan untuk memperbaiki konduksi/fungsi neuromuskular.
ü Pembatasan protein mungkin perlu untuk menurunkan produksi produk sisa asam, karenanya menambah kompleks karbohidrat akan memperbaiki produksi asam dari metabolisme lemak pada diabetik.
ü Mngkin diperlukan untuk menurunkan asidosis dengan menurunkan kelebihan kalium dan produk sisa asam bila pH kurang dari 7,1 dan terapi lain tidak efektif, atau terjadi GJK.




2. ALKALOSIS
v  Alkalosis adalah suatu keadaan pada saat darah terlalu banyak mengandung basa (atau terlalu sedikit mengandung asam) dan kadang menyebabkan meningkatnya pH darah.
v  Asidosis dan alkalosis bukan merupakan suatu penyakit tetapi lebih merupakan suatu akibat dari sejumlah penyakit. Terjadinya asidosis dan alkalosis merupakan petunjuk penting dari adanya masalah metabolisme yang serius.Asidosis dan alkalosis dikelompokkan menjadi metabolik atau respiratorik, tergantung kepada penyebab utamanya.
v  Asidosis metabolik dan alkalosis metabolik disebabkan oleh ketidakseimbangan dalam pembentukan dan pembuangan asam atau basa oleh ginjal.
v  Asidosis respiratorik atau alkalosis respiratorik terutama disebabkan oleh penyakit paru-paru atau kelainan pernafasan.
1.        ALKALOSIS RESPIRATORIK
Defenisi
Alkalosis Respiratorik adalah suatu keadaan dimana darah menjadi basa karena pernafasan yang cepat dan dalam, sehingga menyebabkan kadar karbondioksida dalam darah menjadi rendah.
Penyebab
Alkalosis respratorik terjadi bila ada hiperventilasi. Hiperventilasi menyebabkan kadar CO2 tubuh turun sehingga terjadi kompensasi tubuh untuk menurunkan pH dengan meretensi H+ oleh ginjal agar absorpsi HCO3- berkurang. Ingat, bila pH tinggi berarti [H+] turun.
Penyebab hiperventilasi yang paling sering ditemukan adalah kecemasan.
Penyebab akut dapat berupa stimulasi saraf sentral pada tumor serebri,ensefalitis, dan intoksikasi. Penyebab kronis dapat berupa penyakit paru kronis.
Penyebab lain dari alkalosis respiratorik adalah:
·            rasa nyeri
·           sirosis hati
·           kadar oksigen darah yang rendah
·            demam
·            overdosis aspirin.
Gambaran Klinis
·            Pasien sering menguap
·            Napas lebih cepat dan dalam
·            Kepala terasa ringan
·            Parestesi sekitar mulut serta kesemutan
Diagnosis
Laboratorium: pH ↑ – pCO2 ↓ – bikarbonat ↓ – BE (-)
Penatalaksanaan
Biasanya satu-satunya pengobatan yang dibutuhkan adalah memperlambat pernafasan.
·           Jika penyebabnya adalah kecemasan, memperlambat pernafasan bisa meredakan penyakit ini.
·            Jika penyebabnya adalah rasa nyeri, diberikan obat pereda nyeri.
·           Menghembuskan nafas dalam kantung kertas (bukan kantung plastik) bisa membantu meningkatkan kadar karbondioksida setelah penderita menghirup kembali karbondioksida yang dihembuskannya.
Pilihan lainnya adalah mengajarkan penderita untuk menahan nafasnya selama mungkin, kemudian menarik nafas dangkal dan menahan kembali nafasnya selama mungkin. Hal ini dilakukan berulang dalam satu rangkaian sebanyak 6-10 kali.
Jika kadar karbondioksida meningkat, gejala hiperventilasi akan membaik, sehingga mengurangi kecemasan penderita dan menghentikan serangan alkalosis respiratorik.
Pemeriksaan Diagnostik
·           pH arteri lebih besar dari 7,45 (mungkin hampir normal pada tahap kronis)
·           Bikarbonat : normal atau menurun, kurang dari 22mEq/L (kompensasi)
·           PoCO2 : menurun kurang dari 35mmHg (primer)
·           Kalsium serum : menurun
·           Klorida serum : menurun
·           Kalsium serum : menurun
·           pH urine : meningkat, lebih besar dari 7,0

TINDAKAN/INTERVENSI
Mandiri
ü Pantau frekuensi, kedalaman, dan upaya penapasan; pastikan penyebab hiperventilasi bila mungkin, mis., ansietas, nyeri, ketidaktepatan penyusunan ventilator.
ü Kaji tingkat kesadaran dan cacat status neuromuskular mis., kekuatan, tonus, refleks, dan sensas.
ü Demonstrasikan pola napas tepat dan tinjau ulang/bantu dengan pengobatan yang dipesankan mis., masker/kantung rebreathing.
ü Berikan dukungan dengan cara dan suara tenang.



ü Berikan keamanan/kewaspadaan kejang, mis., tempat tidur posisi rendah, pagar tempat tidur diberi bantalan, observasi sering
RASIONAL

ü Mengidentivikasi perubahan dari pola pernapasan biasanya dan mempengaruhi pilihan intervensi.


ü Penurunan mental, dan tetani atau kejang dapat terjadi.

ü Menurunkan frekuensi pernapasan akan meningkatkan kadar PCO2.


ü Dapat membantu menyakinkan kembali dan menenangkan  pasien agitasi, karenanya membantu dalam menurunkan frekuensi penapasan.
ü  Perubahan dalam mental atau SSP dan hiperiritabilitas neuromuskular dapat mengakibatkan bahaya pasien. Khususnya bila terjadi tetani/kejang.
Kolaborasi
ü Bantu dengan identivikasi/pengobatan penyebab dasar.
ü Pantau/grafik seri GDA.

ü Pantau kalium serum.  Gantikan sesuai indikasi.



ü Berikan sedasi sesuai indikasi


ü Berikan CO2, atau gunaan masker rebreathing sesuai indikasi. Kurangi frekuensi pernapasan/volume tidal,atau tambahkan ruang mati (selang) pada ventilator mekanik.

ü Rujuk pada daftar faktor predisposisi/pemberat.
ü Mengidentifikasi kebutuhan / keefektifan terapi.
ü Hipokalemia dapat terjadi saat kalium hilang (urine) atau pindah kedalam sel dalam pertukaran untuk hidrogen dalam upaya memperbaiki alkalosis.
ü Mungkin diperlukan untuk menurunkan penyebab psikogenik.
ü Meningkatkan retensi CO2 dapat memperbaiki defisit asam karbonik.







2.        ALKALOSIS METABOLIK
Defenisi Alkalosis Metabolik adalah suatu keadaan dimana darah dalam keadaan basa karena tingginya kadar bikarbonat.
Penyebab Alkalosis metabolik terjadi jika tubuh kehilangan terlalu banyak asam.
Sebagai contoh adalah kehilangan sejumlah asam lambung selama periode muntah yang berkepanjangan atau bila asam lambung disedot dengan selang lambung (seperti yang kadang-kadang dilakukan di rumah sakit, terutama setelah pembedahan perut).
Pada kasus yang jarang, alkalosis metabolik terjadi pada seseorang yang mengkonsumsi terlalu banyak basa dari bahan-bahan seperti soda bikarbonat.
Selain itu, alkalosis metabolik dapat terjadi bila kehilangan natrium atau kalium dalam jumlah yang banyak mempengaruhi kemampuan ginjal dalam mengendalikan keseimbangan asam basa darah.
Penyebab utama alkalosis metabolic :
1.    Penggunaan diuretik (tiazid, furosemid, asam etakrinat)
2.    Kehilangan asam karena muntah atau pengosongan lambung
3.    Kelenjar adrenal yang terlalu aktif (sindroma Cushing atau akibat penggunaan kortikosteroid).
Diagnosis
Dilakukan pemeriksaan darah arteri untuk menunjukkan darah dalam keadaan basa.
Lab: pH ↑, CO ↑, BE (+), pO2 ↓, HCO3
Penatalaksanaan
Biasanya alkalosis metabolic diatasi dengan pemberian cairan dan elektrolit dalam hal ini adalah natrium dan kalium.Pada kasus berat,diberikan ammonium klorida secara intravena.
Untuk pemberian K+ (KCl) memperbaiki alkalosis (max 40 mEq K+/ L)


Pemeriksa Diagnostik
·           Ph arterial : meningkat, lebih besar dari 7,54
·           Bikarbonat : meningkat, lebih besar dari 26 mEq/L (primer)
·           PaCO2 : agak meningkat, lebih besar dari 45mmHg (kompensasi)
·           Kelebihan basa (base axcess): meningkat
·           Klorida serum : menurun kurang dari 98 mEq/L. (bila alkalosis adalah hipoklaremia) secara disproposional terhadap penurunan natrium serum.
·           Kalium serum : Biasanya menurun
·           Klorida urine : kuuurang dari 10 mEq/L menunjukan respon alkalosis, sedangkan kadar lebih dari 20mEq/L menunjukan tahanan klorida.
·           EKG : dapat menunjukan perubahan hipoksemia yang mencakup peninggian gelombang P, gelombang T datar segmen ST depresi, gelombang T rendah yang bersatu dengan gelombang P dan peningkatan gelombang U.


4.        PENGKAJIAN KEPERAWATAN UNTUK KETIDAKSEIMBANGAN CAIRAN, ELEKTROLIT DAN ASAM BASA. 
PENKAJIAN
KETIDAK SEIMBANGAN
PERUBAHAN BERAT BADAN
ü  Turun 2% - 5%
ü  Turun 5% -10%
ü  Turun 10% - 15%
ü  Turun 15% - 20%
ü  Naik 2%
ü  Naik 5%
ü  Naik 8%

ü  kekurangan voluma cairan* ringan
ü  kekurangan voluma cairan* sedang
ü  kekurangan voluma cairan* berat
ü  kematian.
ü  kelebihan voluma cairan ringan
ü  kelebihan voluma cairan sedang
ü  kelebihan voluma cairan berat
KEPALA
Riwayat:
ü  sakit kepala


ü  kepala pening/pusing

ü  observasi iritabilitas


ü  letargi


ü  konfunsi,disorientasi



ü  kekurngan volume cairan asidosis metabolik atau respiratorik,alkalosis metabolik.
ü  Kekuranagn volume cairan asidosis atau alkalosis respiratorik,hipotermia.
ü  Alkalosis respiratorik atau metabolik ketidak seimbangan hiperosmolar,hipertemia,hipokalemia.
ü  Kekuranagan volume cairan asidosis metabolik dan asidosis respiratorik,hiperkalsemia.
ü  Kekurangan volume cairan, hipomagnesia,asidosis metabolik,hipokalemia.
MATA
Inspeksi
ü  Cekung, konjungtifa kering, air mata berkurang atau tidak ada.
ü  Edema periorbital, papiledema
Riwayat
ü  Penglihatan kabur


ü  Kekurangan volume cairan

ü  Kelebihan volume cairan

ü  Kelebihan volume cairan
TENGGOROKA DAN MULUT
Inspeksi :
ü  Membran mukosa kering, lengket, bibir pecah-pecah dan kering, salivasi menurun.
ü  Lidah dibagian longitudinal mengerut.


ü  Kekurangan volume cairan, hipernatremia.



SISTEM KARDIOVASKULAR
Inspeksi
ü  Vena leher
ü  Distensi
ü  Dependen body parts (bagan-bagian tubuh yang tertekan pada saat berbaring) : Tungkai, sakrum, punggung lambatnya pengsian vena.
Palpasi
ü  Edema (bagian tubuh dependen : punggung, sakrum, tungkai).
ü  Distrimia (juga dicatat sebagai perubahan EKG).

ü  Peningkatan frekuensi denyut nadi



ü  Pengurangan frekuensi denyut nadi
ü  Denyut nadi lemah

ü  Pengsian Kapiler menurun
ü  Denyut nadi kuat
Auskultasi.
ü  Tekanan darah rendah atau tanpa perubahan tekanan darah paa posisi ortostatik
ü  Bunyi jantung ketiga
ü  Hipertensi


ü  Kekurangan voume cairan
ü  Kelebihan volume cairan




ü  Kekurangan volume cairan

ü  Kelebihan volume cairan

ü  Asidosis metabolik, alkalosis, asidosis respiratorik, ketidak seimbangan kalium, hipomagnesemia.
ü  Alkalosis metabolik, asidosis respiratorik, hopinatremia, kekurangan volume cairan, kelebihan volume cairan, hipomagnesemia.
ü  Alkalosis metabolik, hipokalemia.
ü  Kekuragan volume cairan, Hipokalemia.
ü  Kekurangan volume cairan
ü  Kelebihan volume cairan

ü  Kekurangan volume cairan, Hiponatremia, Hiperkalemia, Hipermagnesimia.
ü  Kelebihan volume cairan
ü  Kelebihan volume cairan
SISTEM PERNAPASAN
Inspeksi
ü  Peningkatan frekuensi napas

ü  dispnea.
Auskultasi
ü  Krekels


ü Kelebihan volume cairan, alkalosis respiratorik, asidosis metabolik.
ü Kelebihan volume caiaran.

ü Kelebihan Volume cairan
SISTEM GASTROINTESTINAL
Riwayat
ü  Anoreksia
ü  Kram abdomen
Inspeksi
ü  Abdomen Cekung
ü  Abdomen distensi
ü  Muntah

ü  Diare
Auskultasi
ü  Hiperperistaltik disertai diare atau hipoperistaltik.



ü Asidosis Metabolik
ü Asidosis metabolik

ü Kekurangan volume cairan
ü Sindrom ruang- ketiga
ü Kekurangan volume cairan, Hiperkalsemia, hiponatremia.
ü Hiponatremia

ü Kekurangan volume cairan, hipokalemia.
SISTEM GINJAL
Inspeksi
ü  Oligura atau anuria

ü  Diuresisi (jika ginjal normal)
ü  Berat jenis urine meningkat


ü Kekurungan volume cairan, kelebihan volume cairan.
ü Kelebihan volume cairan
ü Kekurangan volume cairan
SISTEM NEUROMUSKULAR
Inspeksi :
ü  Baal, kesemutan


ü  Kram otot, tetani

ü  Koma
ü  Tremor
ü  Tanda chvostek positif
Palpasi
ü  Hiposanisitas
ü  Hipertonisitas

Perkusi
ü  Refleks tendon dalam menurun atau tidak ada
ü  Refleks tendon dalam hiperaktif atau meningkat


ü Alkalosis metabolik, hipokalsemia, ketidaj seimbanga kalium.
ü Hipokalsemia, alkalosis respiratorik atau metabolik
ü Ketidak seimbangan hipoosmolar atau hiperosmolar, hiponatremia.
ü Asidosis respiratorik, hipomagnesemia,
ü Hipokalsemia, hipomagnesemia

ü Hipokalemia, hiperkalsemia
ü Hipokalsemia, hipomagnesemia, alkalosis metabolik

ü Hiperkalsemia, hipermagnesemia

ü Hipokalsemia, hipomagnesemia
KULIT
Suhu Tubuh
ü  Meningkat

ü  Menurun
Inspeksi:
ü  Kering, kemerahan

Palpasi:
ü  Turgor kulit tidak elastis, kulit dingin dan lembab


ü Hpernatremia, ketidakseimbangan hiperosmolar, asidosis metabolik
ü Kekurangan volume cairan

ü Kekurangan volume cairan, hipernatremia, asidosis metabolik

ü Kekurangan volume cairan





5.        DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.    Risiko kehilangan volume cairan yang berhubungan dengan kehilangan plasma yang berkaitan dengan luka bakar, muntah, kegagalan mekanisme pengaturan.
2.    Kekurangan volume cairan berhubungan dengan retensi natrium, gangguan mekanisme pengaturan.
3.     Kerusakan integritas jaringan yang berhubungan dengan edema.
4.    Gangguan pertukaran gas yang berhubungan dengan perubahan suplai oksigen perubahan membran alveolar kapiler, perubahan aliran darah, perubahan kapasitas pengangkut oksigen darah.
5.    Penuruan curah jantung yang berhubungan dengan distrimia yang berkaitan ketidakseimbangan elektrolit. 



















BAB III
PENUTUP

A.      Kesimpulan
Pengaturan keseimbangan cairan perlu memperhatikan 2 parameter penting, yaitu: volume cairan ekstrasel dan osmolaritas cairan ekstrasel. Ginjal mengontrol volume cairan ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan garam dan mengontrol osmolaritas ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan cairan. Ginjal mempertahankan keseimbangan ini dengan mengatur keluaran garam dan air dalam urine sesuai kebutuhan untuk mengkompensasi asupan dan kehilangan abnormal dari air dan garam tersebut. Ginjal juga turut berperan dalam mempertahankan keseimbangan asam-basa dengan mengatur keluaran ion hidrogen dan ion bikarbonat dalam urine sesuai kebutuhan. Selain ginjal, yang turut berperan dalam keseimbangan asam-basa adalah paru-paru dengan mengeksresikan ion hidrogen dan CO2 dan sistem dapar (buffer) kimia dalam cairan tubuh.
B.       Saran
Berdasarkan beberapa kesimpulan diatas, maka penulis mengajukan beberapa saran untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan volume cairan sebagai berikut :
1.  Perlunya ditingkatkan dan dipertahankan komunikasi yang efektif antara klien, keluarga dan perawat agar terbina hubungan saling percaya dalam memberikan asuhan keperawatan sehingga perawat dapat mendapatkan data-data yang dibutuhkan.
2. Sistem pendokumentasian asuhan keperawatan dipertahankan dan dilengkapi dengan respon klien agar asuhan keperawatan yang diberikan lebih efektif.




DAFTAR PUSTAKA

Brunner&Suddarth. (2000). Keperawatan Medical Medah.(Edisi 8). Volume 1.
Jakarta : EGC
Doenges. ME. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC
Martin.T. (1998). Standar Keperawatan Pasien : Pasien Standar Care. Jakarta : EGC
Syaifuddin. (2006). Anatomi Fisiologi Untuk Mahasiswa Keperawatan (Edisi 3).
Jakarta : EGC
www.google.com.http://forbetterhealth.wordpress.com/2008/12/17/implikasi-
keperawatan-atas-masalah-cairan-tubuh/ . Pukul : 17.11 WIB




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar